Sabtu, 16 Maret 2013

Kutahu, ini bukan kehendak kita!


Nita terpaku dalam duduknya. Tubuhnya gemetar seperti orang yang sedang kejang. Jantungnya berdetak dengan alur yang tidak seharusnya. Pesan itu membuatnya sangat terkejut. Pikirannya melayang menuju masa ketika dia masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Entah apa yang sebenarnya terjadi setelah kepergiannya, namun inilah yang harus dia hadapi. Dengan tenaga yang masih tersisa, Nita mencoba meraih hapenya yang tergeletak di lantai. Dia membaca kembali pesan yang diterimanya dari Syifa, teman kecilnya, berharap kata demi kata yang ada di dalam pesan tersebut telah berubah dan memiliki arti yang lain. Nita memejamkan matanya dan berdoa dalam hati. ‘aku mohon, berubah!’
Setelah cukup waktu terpejam, Nita membuka kembali kedua matanya. Tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu. Hatinya merasa sangat pilu. “arghhh … kenapa ga berubah sih?!” jerit Nita sambil melemparkan hapenya. Emosinya saat itu tak terkontrol. Hatinya hancur berkeping-keping. Dia menyesal telah meninggalkan Syifa, teman kecilnya tersebut.
***
Matahari tenggelam. Burung-burung pipit yang ada di pohon mangga di samping rumahnya berhenti menyicit. Nita terbangun dari tidurnya yang hanya sekejap. Mendengar suara adzan maghrib yang sedang berkumandang, dia bergegas pergi untuk berwudhu. Dia mencoba khusyu’ dalam sholatnya, namun pesan yang tadi sore dia terima tak bisa dia hilangkan begitu saja. Seperti bayang-bayang hantu yang selalu menghiasi langkah-langkah hidupnya.
“Ya Allah, berikanlah aku petunjuk dan rahmat-Mu. Ampunilah dosa-dosaku dan juga dosa-dosa orang-orang yang aku sayangi. Jika ini kehendak-Mu, berikanku petunjuk dan rahmat-Mu dan perkenankan aku untuk mengajaknya kembali kepada-Mu. Amin.” Nita bersujud di atas sajadah yang warnanya sudah memudar. Dia berjanji akan mengajak Syifa kembali ke jalan-Nya.
***
Tut.. tut.. tut.. tut…
Tut.. tut.. tut.. tut…
“Nit, ada pesan nih dari Syifa.”
“Iya, Pak. Sebentar lagi aku kesitu, kok.”
“kenapa hape kamu lecet begini?” Tanya Bapak heran ketika melihat ada goresan di hape Nita. Nita hanya tersenyum lalu duduk di samping Bapaknya. “tadi jatuh dari lemari, pak.”
Sebuah pesan singkat tertera di layar hape butut Nita. Dia segera mohon diri kepada bapaknya untuk pergi ke kamar.
Aku tahu aku salah. Aku khilaf dan sekarang aku kacau, Nit. Bantu aku …
Tangisnya tak tertahankan lagi. Air mata itu terjatuh tanpa dia harapkan.  Dibalasnya pesan tersebut.
Besok aku tunggu di taman kota. Aku harap kamu datang. Aku tak bisa tinggal lebih lama di sini karena minggu depan aku harus kembali … aku pasti membantumu J 
Diselipkannya senyum untuk Syifa agar dia yakin bahwa Nita akan membantunya dan dia tidak sendiri.  Pikirannya masih juga tidak mengerti tentang Syifa. Siapa yang harus disalahkan? Dihempaskan badannya ke atas kasur lusuh yang dulu diberikan Bapak sebagai hadiah prestasinya di bidang akademik. Mesti sudah tidak seindah dan seempuk dulu, namun dia tetap tidak mau untuk mengganti kasur tersebut. Hadiah terindah yang pernah dia terima dari bapaknya. Lama melayang ke alam yang dia sendiri tidak tahu kejelasannya, akhirnya  Nita tertidur. Terlelap dalam mimpi dengan pikiran yang belum juga menemukan ketenangan dan kejelasan dengan  keadaan yang sedang dia hadapi.
***
Nita bergegas menuju taman kota dimana dia dan Syifa akan bertemu. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menanyakan semuanya dengan cara perlahan dan tanpa emosi. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Dengan jilbab putih yang dulu sering dipakai almarhum ibunya, Nita melangkah meninggalkan rumah dan siap untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.
Seorang wanita dengan jeans hitam dan kaos putih polos duduk di salah satu kursi-kursi kecil yang ada di taman kota. Wajahnya terlihat pucat dan penuh kesedihan. Matanya sedikit sembab. Tiba-tiba hapenya berbunyi singkat menandakan ada pesan masuk yang harus segera dia baca.
Aku sudah di taman kota, kamu dimana?
Tanpa membutuhkan waktu yang lama, pesan itupun dibalasnya. Ada sedikit senyum dan cahaya yang terpancar dari wajah pucatnya.
Aku sudah menunggumu,Nit. aku duduk di kursi kecil yang ada di sekitar air mancur. Aku  sendiri..
Tanpa menunggu waktu yang cukup lama, Nita dapat menemukan tempat yang tadi disampaikan oleh Syifa. Matanya terbelalak kaget ketika melihat dari jarak yang tidak terlalu jauh bahwa wanita yang sedang duduk di kursi kecil itu adalah Syifa. Dia seperti tidak mengenal wanita itu, bukan Syifa teman kecilnya.’ Mungkinkah itu syifa?’ Pikirnya dalam hati. Ada rasa ragu dalam hatinya. Namun dia mencoba untuk membuktikan kebenaran dengan menghampiri wanita tersebut.
“Syifa?” Tanya Nita penuh keraguan.
“Nita?” Tanya wanita itu sambil bangkit dari duduknya. “kamu Nita?” tanyanya lagi. Nita hanya mengangguk dan wanita itupun langsung memeluknya. Setelah cukup lama menghilangkan rasa rindu karena sudah lama tidak bertemu, Nita pun mengajak Syifa untuk mengobrol di taman kecil yang ada di dekat  masjid. Awalnya Syifa menolak, namun akhirnya dia setuju dengan permintaan Nita.
“dari dulu kamu tidak berubah. Masih saja berjilbab,” Syifa membuka pembicaraan mereka dengan penuh keraguan.
“memakai jilbab itu kewajiban setiap muslimah, Syif. Jilbabmu kemana?”  
“aku tak tahu. Entah sudah berada lama aku tidak menyentuh barang suci itu. Aku sudah berbeda,Nit.” jelas Syifa. Tiba-tiba wajahnya terlihat lebih pucat dan muram.  Dia memalingkan wajahnya dari Nita.
“iya. Kamu memang berbeda. Sekarang terlihat lebih langsing dan cantik. Tidak seperti aku yang masih saja seperti bola, hehehe ..” Nita mencoba menghangatkan suasana yang terasa dingin tersebut. Namun sayangnya dia tidak berhasil membuat temannya tertawa atau bahkan tersenyum. Syifa menatap Nita penuh harap dan kesedihan. Air matanya berurai. “aku sudah berbeda. Aku sudah tidak suci lagi. Aku kotor. Aku hina. Aku benci diriku sendiri..” Syifa memaki dan menampari dirinya sendiri. Dia menangis tersedu-sedu. Nita memeluknya untuk mengatakan bahwa masih ada orang yang menganggapnya berharga dan setia bersamanya. Dia tidak sendiri.
“sudahlah. Awalnya aku tidak percaya ketika membaca sms itu, Syifa. Aku  berharap bukan kamu yang mengirim sms tersebut. Bukan kamu orang yang benar-benar mengalami semua itu. Tapi, kini aku tahu bahwa semua itu memang nyata dalam hidupku. Kamu yang mengalaminya dan aku tahu kamu terpukul,” ucap Nita seraya memperkuat pelukannya.  Syifa melepas dekapan hangat temannya, dia meminum seteguk air putih yang dia beli di perempatan jalan menuju taman kota. Hatinya terasa lebih lega.
“maafkan aku,Nit. aku memang bodoh,”
“tidak. Kamu tidak bodoh. Kamu hanya khilaf. Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi agar aku bisa membantumu,”
“dulu aku merasa bangga memakai jilbab. Namun, setelah kamu pindah sekolah aku merasa sendiri untuk berjilbab.  Hingga suatu hari, Anggi mengajakku untuk menghadiri pesta ulang tahun Nurma. Dia mengatakan bahwa dia mengajakku agar aku tidak merasa kesepian.”
“Anggi? Siapa dia?” Tanya Nita. Ada rasa penasaran mendengar nama yang cukup asing di telinganya.
“dia seniorku di club karate.  Karena aku terlalu banyak melamun, dia sering menegurku. Hingga akhirnya aku menceritakan semua masalahku. Mulai dari kehilanganku akan ibu, kepergianmu ke Solo dan jilbab yang semakin menipis pemakainya,”
“lalu?”
“dia mengajakku ke pesta itu dengan syarat aku harus melepas jilbabku. Awalnya aku tidak mau. Namun, dia memaksa. Setelah aku meninggalkan jilbabku, dia mengatakan bahwa aku terlihat lebih cantik. Dia merayuku, memuji-muji diriku bahkan mengatakan cinta kepadaku.”
“dan kamu menerimanya. Hingga syaitan tertawa karena kemenangannya mengalahkan imanmu?!” emosi Nita mulai membuncah . Dia memang orang yang sudah tidak bisa diajak kompromi jika  membicarakan hukum berjilbab bagi seorang muslimah dan juga pacaran. Beberapa saat berlalu tanpa suara. Nita menyadari bahwa ucapannya terlalu kasar dan diapun mencoba mencairkan suasana kembali. “maafkan aku, Syifa. Aku juga salah telah meninggalkanmu,” Nita menatap wajah Syifa penuh penyesalan.
“tidak. Kamu tidak bersalah,” Syifa  duduk dengan tatapan kosong. “setelah kami berpacaran selama tiga bulan, dia mengajakku untuk dinner di rumahnya. Dia bilang akan mengenalkanku pada orang tuanya. Tapi ternyata disana tak ada orang sama sekali. Dia merayuku setengah mati. Aku terbuai,” Syifa menundukkan kepalanya, mengusap tangis hatinya. Gambaran kotor itu mengisi pikirannya. “dia memberiku segelas coklat hangat karena malam itu hujan turun dengan derasnya. Dia memelukku sangat erat. Tiba-tiba mataku berkunang-kunang. Dia mengajakku ke kamarnya. Dan…kamu pasti tahu apa yan terjadi,” jelasnya terbata-bata dan air mata terjatuh dipipinya yang merah merona. Nita kembali memeluknya. Masalah batin itu memang tidak mudah untuk dilupakan. Apalagi ketika orang-orang yang ada di sekitarnya sudah menganggapnya tidak ada.
“Aku tahu kamu sudah berbuat dosa. Namun, Allah Maha Pengampun. Jika kamu berkenan, aku akan membimbingmu kembali ke jalan-Nya,” jelas Nita menenangkan hati teman kecilnya. “aku akan mohon izin kepada Bapakmu untuk mengajakmu tinggal bersamaku di Solo. Aku yakin beliau mengizinkan. Apa kamu mau?” Tanya Nita dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
“bantu aku,Nit. aku yakin kamu bisa menuntunku,”
“InsyaAllah! Sebaiknya sekarang kita pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat taubat. Aku akan membantumu. Kita perbaiki semuanya, sedikit demi sedikit.” Tutur Nita. Syifa mengangguk pelan. Mereka pun bangun dari duduknya dan pergi menuju Masjid Al-Hikmah. Tak ada gading yang tak retak. Namun bukan berarti tidak ada harapan sama sekali untuk memperbaiki kehidupan yang sudah terbengkalai.  Tidak ada hal yang tidak mungkin jika kita tidak sampai menyekutukan-Nya. Allah Maha Pengampun!

NB: belajar nulis, memori lama yang tersimpan di buku tua :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar